pada tanggal
cerpen
kata-kata
pemula
poetry
puisi
sastra
Selamat Pagi
Soreku
Surat Izin Mencintai
tulisan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#1 Si Jahat dan Si
Bodoh
Aku menyelami
laut ini lagi, terumbu karang yang indah disini selalu menarikku dalam
ketenangannya, kehindahan alam biota-biota laut yang berenang kesana-kemari entah
mencari makan atau mungkin memang kerjanya yang memang modar-mandir di lautan
indah ini dan ajaibnya tanpa perlu apapun aku menyukai ini. Kegiatan ini sudah
aku lakukan 3 tahun belakangan ini. Aku bisa setiap minggu mengunjungi tempat
ini. Sejujurnya ini adalah hobiku yang kesekian, seperti sekolah hobiku berganti-ganti
setiap waktunya. Semua aku lakukan terkait hobiku ini termasuk bergabung dengan
komunitas, dan sebagianya. Aku serasa menjadi makhluk paling sibuk di rumah,
apa itu weekend, tidur, atau rebahan? Jika ada pertanyaan apakah hobiku apakah
yang aku suka? Aku harap pertanyaan itu tak pernah kudengar, jika iya... aku
akan sangat bingung menjawabnya. Kerena semua yang kulakukan untuk mengisi
hidupku yang datar ini, aku melakukan hal yang bisa aku lakukan bukan hal yang
ingin ku lakukan.
“karaaa”
teriakan seseorang diujung telepon
“hem”
jawabku singkat
“Post
kara, mana gue tunggu-tunggu juga, cepatttttt” cerewet Steven asistenku dengan
khas dialognya yang jujur membuatku gelih kadang-kadang.
Satu hari tanpa feeds? Itu tak bisa terjadi, ini lebih dari mengabari seorang pacar. Seolah tidak ada hari dengan diriku sendiri. Semua orang seolah ingin mengintip kehidupanmu, sesuatu yang begitu menarik, tanpa tau bahwa sebenarnya hidupku tak semenarik itu untuk diriku sendiri. Hidup yang aku sendiri tak begitu suka.
Rasa
lelah setelah diving hari ini terasa begitu nikmat. Berkendara sendiri di malam
hari seperti ini adalah hal yang ku rindukan. Ini seperti hadiah di ujung
minggu yang melelahkan. Seperti kulit ayam pada sebuah ayam goreng krispi.
Kota
ini tak pernah berubah, rasanya hanya lampu-lampu serta bangunan-bangunan yang
semakin banyak dan variatif, suasana yang disuguhkan masih sama seperti aku
yang terus menolak untuk beranjak pada zona waktuku sendiri.
Seorang
anak kecil mengetuk kaca mobilku. Dengan senyumnya yang ramah menawarkan dagangannya.
“kak tisunya kak” ucapnya dengan mimiknya yang begitu apik. Senyumnya yang
menawan berbanding terbalik jika dibandingkan dengan beberapa dari pengendara
sepertiku yang mencul dengan suara penuh kesal dan raut yang begitu lelah
dimakan tekanan kehidupan. Aku memang sering sok tau tentang itu, aku seringkali
bertengkar dengan pikiranku sendiri. Tentang anak penjual tisu tadi, setelah
aku membeli beberapa dagangannya ia mengulas senyum kembali dan pergi dengan
ucapan terimakasih diakhirnya. Begitu mudahnya menyaksikan seyuman tulus dari
anak itu, berbeda denganku yang mencari-cari kebahagiaan dengan seperti yang
kulakukan hari ini. Memang ada benarnya kata-kata yang aku terima dari film
yang beberapa hari lalu ku saksikan bahwa “sesungguhnya kebahagiaan ada pada
dirimu sendiri, semua hal yang terjadi hanyalah cara agar kau menemukannya”. Kata-kata
ini, aku menghela napas berat, aku sudah mendengarnya lebih dulu 8 tahun lalu,
dari laki-laki paling keras kepala itu, manusia dengan isi kepalanya yang unik
dan kadang terlampau unik namun anehnya aku suka. Aku menyukai semua yang ada
pada dirinya kecuali keputusannya… ya dia meninggalkanku dengan alasan
indealisnya yang ku tau tak sepenuhnya salah tapi tak pernah bisa aku terima. Dasar
indealis jahat. Tapi aku menanti kepulangannya kapanpun. Buktinya si bodoh ini
tetap saja sendiri seolah jika bukan dia aku gak mau, jika tidak dia maka tak
apa-apa tidak dengan siapapun. Aku si pecinta bodoh. Si jahat dan si bodoh.
Komentar
Posting Komentar