Rindu yang Jenaka

 

    Rindu yang Jenaka


    Kita berkelana ke negeri tiada benama

    Aku mengenalkan tentang arti sebuah jenaka dalam rindu

    Lalu kau merinci arti-arti dari senyum manis dikala mata beradu

    Kita bak penyair ulung, merangkai sastra di tepian sepi yang penuh keramaian duniawi


    Satu persatu detik berguguran 

    Akhirnya, kita pupus bersamaan 

    Perlahan melemah dan berakhir di gubuk gelandangan 


    Kita mulai berdebat tentang sastra yang kemudian berubah wacana karsa

    Tentang ketulusan senyum yang tak selaras dengan binar cahaya

    Lalu tetang rindu yang kemudian tak lagi jenaka


    Terakhir,

    Tentang sebuah takdir yang tak runut memberi arah

    Sebab pada akhirnya kita hanya akan memikul rindu pada punuk hati yang tak pernah lagi sama

Komentar