Aku benci kota ini, tak ada alasan apapun yang bisa meluluhkan hatiku agar berada disini. Entah dengan apa lagi aku menggambarkan kenggananku untuk kembali ke kota yang sayangnya adalah tempat setengah dari memoriku diciptakan.
Telepon dari Mika temanku seminggu lalu lah yang menyebabkan aku kembali berada ditempat ini. Kenangan akan pesta di malam terakhir kami menuntut ilmu di sekolah bernuansa cream dengan gedung berdiri kokoh mengelilingi lapangan luas ini kembali kami sambangi, bukan untuk berpesta atau mengobrol riah tapi dengan suasana piluh sebab guru tercinta yang kerap menghias hari-hari kami itu kembali dengan tenang kepada pemilik sebenarnya.
Tanpa pikir panjang aku segera mengambil cuti untuk pulang ke kota ini. Seminggu yang lalu pemakaman ibu Hana sudah dilaksanakan, wajah-wajah yang telah lama tidak pernah saling bertemu kini kembali saling menyapa dalam haru. Dulu kami sering berandai-andai bagaimana wajah kami ketika sudah dewasa dan memprediksi bagaimana kami di masa depan dengan diselingi cerita konyol dan riang, namun hari ini kami bahkan tak bisa saling meledek. Semua tenggelam dalam pikiran kalut akan kepergian guru yang terkenal dengan tawa khasnya itu.
Sejak pagi cuaca hari ini memang tidak ceria. Beberapa kali rintik menyambangi kota debu ini. Aku duduk di meja coffe tempat dimana biasanya kami menghabiskan waktu seusai sekolah. Beberapa kilas kenangan menghiasi imajiku saat ini. Pandanganku dari tadi jatuh ke lukisan besar yang ditempel tepat di depan mejaku. Tring...
Lonceng coffe berbunyi menandakan seseorang penujung memasuki coffe. Hah Mika dan Dinda dari tadi belum juga datang, kebiasaan yang tidak berubah sedari dulu, diantara kami bertiga maka aku adalah orang yang akan pertama datang dan duduk sendiri seperti ini. Sudah dijalan versi mereka sama dengan baru mau siap-siap alis baru akan mandi dan bersiap.
Aku menatap ke pintu masuk berharap bahwa kedua temanku itulah yang datang setidaknya salah satunya.
Laki dengan jaket hitam dan menenteng laptop ditangannya. Mata kami bertemu cukup lama, mungkin kami sama-sama terkejut akan keadaan saat ini. Bener aku tak pernah menyangka akan bertemu lagi disini dan mungkin diapun sama. Dan apa-apaan ini bukankah yang kutau sekarang dia sudah menetap di luar negeri.
Aku menghitung pelan dalam hati 1...2...3...4...5...
Hatiku terus berdegup liar tak mau dijinakkan
"Karaaaaaaa, happy birthday to you... Happy birthday kara...." Alunan lagu mengejutkan datang dari belakang tempat dudukku, memecah ketegangan yang barusan menghambur padaku
Aku kembali menoleh ditempat lonceng tadi berbunyi. Tak ada.. dia menghilang seperti sebelum-sebelumnya yang sering dia lakukan. Sebenarnya aku sedikit berpikir jika mungkin saja itu hanyalah halusinasi ku semata, bukan apa ini cukup memalukan, Yap aku sering merindukannya, tidak...tidak aku selalu merindukan pemilik mata itu.
Komentar
Posting Komentar