Rumah Usang

 

   Rumah Usang

     280424

    Aku melipat jemari-jemariku dalam lembaran buku usang di rumah eyang

    Mencari potret lucu dalam lembaran usang

    Di sana ternyata potret  remaja tengil terpajang

    Berdiri tegak menantang

    Ia tak bergelut amarah serta gertak kerut di ujung mata

    Ia suci dalam senyum yang merekah

    Disender kasih ayah ibunya

    Kami pikir ia adalah rumah usang dimakan  masa

    Lantas mengapa telah berdiri rumah usang tak berwarna?

    Apa ini tentang tuntutan senyuman di wajah kami yang sama sekali tiada jenaka? 

    Dipeluk hangat Ibundah ia tak pernah menjadi usang

    Tapi, sekarang ia adalah reruntuhan puing hancur tak berpegang

Komentar